“DIKUKUHKAN MAMA MARIA TEKEGE”

Foto ilustrasi mama Maria Tekege dan saudarinya

PANIAI – pada tahun 2019 lalu saya berkunjung ke paniai sala satu kampung yaitu; (D I M I A). Selain saya pigi adalah ketemu dengan bapa dan mama mantu saya, bernama maria Tekege selain maksud saya tujuan lihat mama-mama yang biasa jual noken di Enarotali bekap di jalan tua tempat di kali Awaa Enarotali. Karena beberapa kali, mama mantu saya ini buat noken asli Papua buatan kulit kayu, setiap kali banyak orang beli noken itu dan mama mantu punya bakat.

Tidak hanya itu, waktu itu saya di paniai bersama mama mantu maria, biasanya mama-mama dong di Paniai jual lagi kepada masyarakat di Paniai noken-noken buatan dari mama dong sangat terharu dan kreatif. Sering kali saya mendapat kabar bahwa ada masyarakat juga yang merintis, ada juga yang sudah dijalankan sejak beberapa tahun lalu di Paniai.

Dari pengalaman dan pengamatan saat berkunjung ke pasar di kota Enarotali, mayoritas pada pedagang dan pengusaha non Papua yang selalu menjual ayam putih mereka sisikan pasar ayam, babi dll,” sedangkan pasar mama-mama asli Paniai tidak peratikan baik termasuk pasar noken mama-mama Paniai apa lagi jual makan-makana alamia seperti ubi, ikan, udan, sayur-mayur dan masih banyak makanan itu saja, pigi jual di pinggiran jalan rayah hal itu tidak pantas. ( Sampai hari ini Paniai butuh figur merakyat)

Mama-mama paniai ini melirik usaha-usaha mereka, mereka bekerja keras merintis, menjalankan dan bersaing. Hal ini Luar biasa. Satu upaya yang harus saya berikan apresiasi dan hormat mepada mereka mama-mama paniai.

Tidak ada pembinaan, tidak ada arahan atau semacamnya. Mereka lihat, belajar dan berusaha secara mandiri untuk menekuni bidang ini dan bidang alamia lainnya. Semua mereka kelola secara mandiri. Seperti filosopi orang suku mee: dou, gai, ekowai (melihat, berpikir dan bertindak/melakukan).

Mereka beli dalam jumlah ratusan. Ketika habis, mereka turun ke Nabire, beli dan naik lagi untuk jual. Sebuah usaha yang amat baik dan patut diapresiasi.

Saya tidak ingin buru-buru menuliskan kritikan pada pemerintah Paniai soal pemberdayaan ekonomi masyarakat ini. Tetapi bagi saya, mulai merintis usaha secara mandiri seperti ini adalah hal luar biasa. Karena dengan begitu, kemandirian ekonomi dapat tercipta.

Siapa pun bisa mulai usaha apa pun. Modal utamanya adalah ada niat dan modal awal. Niat itu harus dibarengi dengan kerja keras. Selain itu setia dan bersaing secara sehat.

Untung dan rugi, atau memikirkan tentang berapa yang akan didapat, itu hal-hal yang bisa dipikirkan belakangan. Yang utamanya adalah “kasi jalan barang”.

Saya banyak belajar dari mama mantu dan bapa mantu saya Maria Tekege Selain belajar dari mereka, saya juga tertarik untuk mencoba dan memulainya. Gagal, atau berhasil, untung atau rugi, adalah dua hal yang biasa bagi para pelaku ekonomi dalam dunia bisnis.

Banyak potensi dalam bidang apa saja untuk digarap. Yang kurang adalah kesadaran untuk menghargai waktu dengan melakukan hal-hal luar biasa salam kehidupan setiap individu. Dengan menghargai waktu, tidak akan ada waktu yang terbuang sia-sia.

Hal-hal besar dan luar biasa dalam hidup setiap orang tidak akan terjadi kalau tidak berani memulai dan melangkah. Satu langkah awal menentukan satu keberhasilan.


“Curahan Hati Perempuan Dari Lembah Dingin Enarotali (Eropa)”

Dari Paniai–Kehidupan yang selalu penuh dengan keterbatasan dan kekurangan tetapi pembuktian seorang Mama Maria Tekege besertanya dalam memperjuangkan hidup untuk bisa menafkahi keluarganya.

Walau hidup di Pegunungan Tengah Papua yang dingin dan penuh dengan kerawanan tidak membuat seorang Maria Tekege Perempuan asli Paniai, untuk tetap berusaha mencari Nafkah guna memenuhi kebutuhan keluarga dan juga untuk memperjuangkan masa depan anak-anaknya penerus Bangsa.

Maria Tekege mengungkapkan bahwa walau semua yang dikerjakannya begitu berat tetapi dirinya selalu berusaha tegar dalam menghadapi semua jalan kehidupan yang ada demi masa depan anak-anak dan juga keluarganya.

“Memang berat menjadi seorang ibu yang selalu berusaha buat keluarga dan anak-anak tetapi disini sebagai perempuan Indonesia saya harus selalu tegar dan selalu dan berusaha menjalankan peran sebaga ibu yang baik untuk anak-anak dan keluarga tanpa meninggalkan kodrat sebagai ibu rumah tangga ataubseorang mama,” kata Maria Tekege.

Mininnya sarana atau tempat untuk bisa memberikan pelajaran kepada Maria Tekege dan mama-mama yang ada di Kab. Paniai, sehingga Mari Tekege dan mama-mama yang ada di Kab. Paniai berjualan di pasar yang penuh dengan lumpur dan debuh sehingga hasil kebun yang Maria Tekege dan mama-mama lainnya menjadi rusak dan kotor terkena lumpur dan debu.

Dengan adanya Pilkada Bupati dan Wakil Bupati di Kab. Paniai bisa membawah suatu perubahan dengan pemimpin yang baru dan juga bisa memberikan sebuah perubahan buat Kab. Paniai, yang selama 5 Tahun belakangan ini tidak ada pembangunan dan kesejahteraan Masyarakat Paniai khususnya mama-mama yang selalu berjualan dengan tempat jualan seadanya yang penuh lumpur dan debu.

“Sampai kapan Perempuan Papua khususnya mama-mama di Kab. Paniai harus hidup dengan sebuah perjuangan yang penuh keterbatasan tanpa meninggalkan kodrat dan peran sebagai ibu rumah tangga yang harus mencari nafkah buat anak-anak dan keluarga,” ujar Maria Tekege dengan penuh kesedihan dan harapan.

Maria juga berharap agar Pilkada Kab. Paniai THN 2024 dapat berjalan dengan aman dan damai agar masyarakat paniai tidak menjadi korban dan juga masyarakat dapat memilih seorang pemimpin yang kelak dapat memperhatikan dan memberikan harapan baru bagi masyarakat dan perempuan Paniai.


Sumber : kepedulian Mama-mama paniai
Sumber : Jumat 6/07/2022.
Sumber : ilustrasi for THN 2024.

Sebagai bonus, saya tambah Ket foto ini pemandangan yang amat indah di pinggir danau Paniai THN 2019 lalu. Tepatnya di kampung Dimia, Kab. Paniai.

Pemilik

Abet

Lelaki_Selera

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai