
Pada suatu daerah hutan belantara yang terpencil, hiduplah dua ekor burung cendrawasih jantan dan betina. Dalam bahasa daerah suku mee disebut Tune bedo(Cenderawasih), kalao bahasa Nduga disebut Jacak (Cenderawasih Dll.
Waktu ke waktu dua ekor burung ini hidup berkesudahan sebab tempat berlindung dan makanan mereka tak berkekurangan karena alam lukisan TUHAN yang ajaib sudah memanjahkan fauna tersebut. Singkat cerita kedua pasanga dari Paniai ini hendak bertunangan dan mau menginjaki perkawinan demi memperkembang biakkan dan menambah populasi bangsa mereka.
Keindahan alam telah memanja kisah cinta mereka harus dimulai. Namun, apa boleh dikata, alam ini bukan saja milik mereka. Keduanya menyadari kalau pasangan serasi harus menempuh pilihan lain. Mereka dikagetkan dengan kedatangan sang pemburuh yang (nota bene) ingin menjelajahi seluruh kawasan hutan tersebut. Pemburuh pun melihat sekitarnya suasana dusun yang sungguh amat kaya, telah dilengkapi dengan kedamaian FLORA dan FAUNA yang mengesankan. Pemburuh ini pun pada akhirnya mengurungkan niatnya untuk berburuh. Apa yang ia pikirkan? Mulailah ia mengatur strategi baru untuk menguasai dusun kedamaian satwa dan hendak menjajah daerah tersebut.
Kemesrahan cinta kedua pasangan paniai janganlah berakhir dengan duka. Pandangan hampa keduanya saling menatap, tanda ada bahaya maut seakan-akan hendak merampas kedamaian dan kemerdekaan mereka. Kedua pasangan tetap menatap apa pun yang sedang dipikirkan sang pemburuh. Demi mempertahankan hidup generasi, mereka harus bertukar pikiran dan memutuskan langkah cepat menghindar dari ancaman sang tamu.
Maka berbincanglah kedua paniai ini dalam bahasa mereka, demikian:
Sang betina : sayang…akan kemanakah satwa kita kalau orang ini datang menghancurkan tempat tinggal kita di sini?
Sang jantan : kita akan melawan mereka.
Si betina : lalu harus kita lawan dengan apa sayang? karena kita tidak punya apa-apa lagi tuk membela diri kita, apalagi melawan dia?
Sang jantan : merunduk sejenak, melihat ketidak berdayaannya dan berkata, benar juga sayang sebab kita hanyalah sebangsa burung yang tak punya segalahnya untuk berdirih di dusun kita dan menghancam mereka.
Akhirnya, kedua satwa ini harus memutuskan untuk mengungsi ke tempat lain. Tak tahu entah ke mana mereka harus mengungsi, sebab mereka telah di rencanakan untuk di singkirkan dari dusun kedamaian satwa mereka.
Ketika ketenteramannya dirampas, kedamaiannya diganggu, dusunnya dimusnahkan, dimanakah salah dan dosa mereka? Padahal mereka pun diciptakan sebangsa makhluk hidup dengan sang pemburuh ini. Mungkin sang pemburuh tidak mengerti apa arti kalimat “Naluri kekuasaan kita jangan sampai merampas hak hidup mereka yang paling rapuh membela diri”. Namun, apa daya dusun kedamaian percintaan kedua Paniai pun jatuh dalam keserakaan sang pemburuh.
Para pembaca yang budiman, ini adalah sebuah cerita yang tak ada artinya. Namun sebagai anak negeri suku mee, jangan sampai kita telah dan akan menjadi sang pemburuh dalam cerita yang tak berarti ini. Siapa tahu aplikasihnya mungkin juga sedang terjadi dalam kelestarian dusun adat kita sendiri khusus anak negeri mee sekitarnya.
Para budiman, marilah kita sama-sama jaga dusun eden titipan Tuhan bagi kita. Cukup sekian yang saya bisa bagikan, semoga cerita yang tak ada artinya ini bisa membawa semangat untuk menjaga kelestarian satwa paniai mepaoo semoga.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
“Selamat membaca. Doa dan harapan saya, artikel ini menjadi berkat bagi para pembaca”
Akhir kata, Lihatlah kedepan, berpikirlah untuk mengambil sikap melangkah atau berbicara dan lakukanlah dengn segenap hati sebab semua Pohon kasih yang kita tanam buahnya tetap akan jatuh tidak jauh dari pohon tersebut .
Salam Hangat .
Catatan;
Bila ada salah penulisan , kelebihan dalam penulisan dan kesamaan dalam penulisan maka maafkan penulis sebab penulis adalah seorang awam dalam dunia menulis.
Penulis adalah Abet Mote Anak negeri paniai Papua
Tinggalkan komentar